Total Tayangan Laman

Label

Kamis, 28 Februari 2013

Buruknya Sistem Koordinasi di Sebuah Rumah Sakit X di Bengkulu



Bukankah sebuah rumah sakit harusnya memiliki koordinasi yang baik untuk memberikan kenyamanan bagi konsumennya yang tentu saja pengunjung dan orang-orang yang di rawat? pertanyaannya bagaimana jika ternyata koordinasi yang di berikan kepada “tukang parkir”, “petugas keamanan” serta “perawat” di R.S. tersebut justru berbeda? Pihak mana  yang sebenarnya merasa dirugikan untuk hal tersebut? Mengapa hal tersebut bisa terjadi di sebuah rumah sakit yang bisa dikatakan rumah sakit terbaik di kota Bengkulu?.
Untuk mengulas mengenai hal tersebut hendaknya kita mulai menelaah satu persatu pertanyaan-pertanyaan tersebut. Penulis sebagai salah satu konsumen dari rumah sakit tersebut merasa kurang dihargai dan dilayani dengan baik. Sebuah gambaran singkat yang dialami penulis adalah, dimana penulis tidak diperlakukan ramah oleh petugas keamanan yang menjaga disana. Cara yang digunakan oleh petugas kemanan tersebut seolah telah memiliki posisi yang cukup tinggi.
Petugas keamanan tersebut menonjolkan sikap dimana “dia” bisa melakukan apa saja semaunya, penggunaan bahasa petugas keamanan tersebut juga terkesan “merendahkan” konsumen. Serta tidak berdasarkan sebuah keramahan melainkan sebuah nada pengusiran. Dengan begitu penulis menyimpulkan bahwa buruknya pelayanan di R.S. tersebut harus segera diatasi.
Mengulas mengenai buruknya koordinasi di R.S. tersebut, penulis akan mencoba mengungkapkan secara rinci mengenai kronologi peristiwa yang dialami sendiri oleh penulis. Pertama, saat penulis tiba di tempat parkir, penulis menanyakan mengenai tutupnya jam besuk di R.S. tersebut. Kemudian tukang parkirnya mengatakan jam tutup rumah sakit sampai jam 23.00 WIB. Kemudian saat penulis memasuki rumah sakit dan tiba di perbatasan antara kamar rawat inap dan penjenguk petugas keamanan tersebut mengatakan bahwa jam besuk sudah tutup dan akan di buka kembali pada pukul 23.00 WIB.
Kedua pernyataan tersebut terkesan sama, namun kenyataannya berbeda untuk mengatakan kata “sampai” dan “akan” seolah-olah kata tersebut merupakan akronim yang jika di ganti dengan kalimat lain akan memiliki makna yang sama. Namun, pada kenyataannya sangat jauh berbeda. Jika kata “sampai” menekankan pada hingga atau mencapai,yang berarti R.S. tersbut di buka hingga pukul 23.00 WIB. Maka  kata “akan” menekankan pada hendak yang berarti hendak di buka kembali pada pukul 23.00 WIB.
Kedua pernyataan tersebut kemudian mendapatkan bantahan lagi dari seorang perawat yang mengatakan kamar rawat inap saat itu sedang dibersihkan dan akan dibuka kembali pukul 22.00 WIB dengan penekanan kata boleh dengan penjenguk lebih dari satu. Sebagai penjenguk sekaligus konsumen dari R.S. tersebut penulis merasa bimbang untuk mengikuti perkataan mana yang dapat diikuti. Penulis kemudian mengikuti perkataan perawat tersebut dan kembali masuk pada pukul 22.00 WIB. Namun, pada kenyataannya penulis mendapatkan perilaku buruk dari petugas kemanan R.S. tersebut.
Penulis dapat mengatakan bahwa petugas keamanan tersebut terkesan sombong dikarenakan saat penulis meminta izin untuk memasuki ruang rawat inap pukul 22.00 WIB (berdasarkan pernyataan perawat). Petugas keamanan tersebut justru memberikan pernyataan yang kurang mengenakkan dan mengatakan dengan lantang bahwa perawat tersebut menyalahi aturan. Penulis merasa perlakuan tersebut kurang sesuai karena menyalahi pihak lain yang belum tentu salah dan menunjukkan sikap sombong pada seorang pengunjung R.S. yang semestinya diperlakukan dengan. Dengan begitu penulis  menarik kesimpulan bahwa perilaku tersebut menunjukkan bahwa koordinasi di R.S. tersebut memang sangat kurang dan minim.
Mengulas kembali mengenai mana pernyataan yang benar dan mana pernyataan yang salah penulis dapat dengan jelas mengatakan bahwa ketiganya salah. Tidak ada yang dapat dikatakan benar berdasarkan aturan yang ada. Mengapa? Dikarenakan papan yang ada di R.S. tersebut menunjukkan waktu besuk sore adalah pukul 13.00 WIB- 21.00 WIB. Kemudian mengapa papan tersebut dibuat menjadi pertanyaan besar, karena pada kenyataannya ketiga pihak tersebut tidak ada yang mengikuti aturan yang “terpampang” dengan jelas di R.S. tersebut.
Berdasarkan hal tersebut penulis menarik kesimpulan bahwa seharusnya sistem koordinasi di Sebuah R.S. ternama di kota X tersebut harus benar-benar di perbaiki. Karena untuk meningkatkan kualitas R.S. tersebut selain kualitas dari kegunaan rumah sakitnya sendiri, juga harus ditingkatkan kualitas dalam hal etika dan sistem koordinasinya. Karena etika dan  sistem koordinasi jauh lebih penting bagi konsumen untuk menilai kualitass R.S. itu sendiri.
Nurlaili Oktaviani Faozan
Mahasiswi, Kriminologi FISIP Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar: